MASALAH KONTRAKTOR STRUKTUR DENGAN KONTRAKTOR LIFT.

KONTRAKTOR STRUKTUR VS KONTRACTOR LIFT PADA ITEM BERIKUT

GAMBAR

KETERANGAN
 

Halaman Utama

Kontruksi Lift

Jenis Lift

 

1. SEPARATOR BEAM.

Separator beam adalah profil baja yang harus dipasang antara 2 shaft atau lebih (ruang luncur / hoist way) sebagai tempat dimana braket rel dipasang. Beam ini harus dipasang ketika ruang luncur tersebut tidak ada dinding sekat pemisahnya. Penghilangan sekat pemisah, tujuannya untuk menghemat biaya kontruksi struktur gedung. Sehingga adanya kebutuhan biaya separator beam ini harus diambil dari biaya penghematan tersebut. Jaman dulu biasanya selalu ada pemisah dinding beton sehingga braket dudukan rel bisa dipasang disini dan tidak pernah ada masalah mengenai scope of work / lingkup pekerjaan antara kontraktor lift dan kontraktor struktur. Beam ini kadang-kadang dipasang juga pada ruang shaft yang terlalu besar. Jarak separator beam ini biasanya dipasang pada jarak 2 atau 2.5 meter.

 

2. BALOK STRUKTUR BETON TUMPUAN BEAM MESIN.

Di ruang mesin, mesin traksi harus dipasang. Bebannya bukan hanya mesin traksi saja karena mesin traksi juga harus menggendong kereta dan counterweight / bobot imbangnya melalui tali bajanya. Sehingga berat kereta, berat counterweight, berat talibaja, berat kapasitas muatan dll. harus dimasuk-kan sebagai beban. Beban ini akan bertumpu pada balok beton (concrete beam) yang ada pada struktur gedung. Biasanya ada main kontraktor atau kontraktor baru yang tidak sadar akan hal ini walaupun pada gambar kerja sudah tertulis dengan jelas. Balok tumpuan mesin ini sangat penting karena menyangkut keamanan penumpang lift. Perhitungan kekuatan bukan hanya beban statis, tapi juga beban dinamis.

3. BALOK BETON PENGGANTUNG PINTU.

Pintu lift harus dipasang kuat pada struktur beton, tidak boleh dipasang pada dinding bata, karena akan gampang goyah yang akhirnya akan lepas dan membahayakan penumpang lift. Balok struktur ini biasanya dipasang diatas pintu luar lift sesuai permintaan kontraktor lift. Door hanger  /rangka back angle dipasang dengan dynabolt ke balok struktur tersebut.

 

 

 

4. OVERHEAD.

Overhead adalah jarak dari permukaan lantai teratas sampai bagian bawah lantai ruang mesin. Jarak ini sama dengan tinggi kereta total ditambah top clearance (jarak luang atas). Top clearance harus diberi jarak luang yang aman agar teknisi gedung atau lift yang berada diatas kereta tidak terbentur kepalanya. Top clearance yang cukup juga, selain mengamankan  orang, juga mengamankan peralatan lift-nya.

Kadang-kadang tinggi overhead tidak cukup, sehingga bagian shaft harus naik tembus ke ruang mesin sampai 0.5 atau 1 meter, sehingga bentuknya seperti panggung / stage. Dalam hal ini tinggi ruang mesin minimum harus tetap bisa memenuhi syarat.

Ada juga kontraktor yang tidak tahu atau tidak baca gambar sehingga lantai ruang mesin di cor rata tanpa kenaikkan ruang luncur, sehingga harus dibobok lagi agar minimum jarak overhead bisa dipenuhi. Tinggi overhead tergantung dari krcrpatan liftnya.

 

5. PIT.

Pit adalah sumuran bagian bawah dari shaft tempat peralatan pengaman seperti buffer, compensating switch ditempatkan. Masalah yang timbu disini biasanya kedalaman pit terlalu dangkal atau terlalu dalam sehingga perlu di perbaiki lagi. Selain itu pit juga harus diberi water proofing untuk mencegah kebocoran air. Air yang tergenang dalam pit akan membuat peralatan cepat berkarat dan cepat merusak lift. Kedalaman pit ini tergantung dari kecepatan liftnya.

 

6. LINTEL BEAM.

Dalam membangun gedung, kadang-kadang dinding shaft (ruang luncur) dibuat dari batu bata atau celcon, bukan dari beton seperti dulu. Maklum sekarang zaman ngirit, apapun kalau bisa diirit. Tentu saja ini tidak akan cukup kuat untuk menahan braket  rel lift, karena braket ini bukan hanya sebagai pemegang rel saja tetapi juga harus bisa menahan pengereman darurat atau gempa bumi. Mau tak mau akhirnya harus dipasang balok struktur beton tambahan (lintel / ring balk)  atau profil baja agar braket rel tersebut bisa terpasang, karena jika hanya dipasang pada balok yang ada di tiap lantai, jarak braket terlalu jauh. Bisa 3 sampai 5 meter, padahal syaratnya harus 2 atau 2.5 meter. Tentu saja ini merupakan pekerjaan konstruksi tambahan buat owner. Kontraktor lift juga harus siap-siap mengajukan konstruksi tambahan walaupun bukan scope-nya dia dan bukan dia yang mengerjakannya.

7. EMERGENCY DOOR

Pada lift zona tinggi (high zone), pintu hall hanya ada di lantai G dan langsung ke lantai yang sangat tinggi, sehingga banyak lantai tanpa pintu yang di lewati. Sesuai peraturan Depnaker, setiap jarak 11 meter harus ada pintu darurat yang dilengkapi saklar pengaman. Pintu ini biasanya terlupakan oleh konsultan sehingga scope pekerjaan menjadi masalah, harus masuk pekerjaan siapa. Karena pintu ini menggunakan pintu besi biasa, yang ditambahi saklar, maka seharusnya ini masuk menjadi bagian pekerjaan sipil. Pintu ini akan sangat berguna jika ada lift macet berada di lorong ruang luncur tanpa pintu.

8. KABEL SENSOR KEBAKARAN

Diantara master control fire alarm dengan control lift perlu kabel penghubung agar lift bisa langsung turun ke lantai utama sesaat setelah terjadi kebakaran. Kabel biasanya ditarik oleh kontraktor fire alarm ke kontrol lift. kadang-kadang ini jadi masalah juga scope pekerjaan siapa?

9. KABEL UTK OPERASI DAYA DARURAT (emergency power operation).

Agar control bisa membedakan daya dari PLN atau dari Gen-set, kabel sensor untuk membedakan sumber daya tersebut perlu ditarik dari gardu atau ruang genset ke control lift, agar sistim operasi daya darurat bisa berjalan dengan baik. Sistim operasi ini diperlukan jika genset tidak cukup sehingga jumlah lift yang harus dioperasikan harus dibatasi.

 

10. TANGGA PIT.

Untuk turun ke pit perlu tangga permanen. Tangga besi ini bisa dibuat oleh kontraktor sipil maupun lift agar teknisi bisa turun naik untuk inspeksi lift maupun inspeksi kebocoran air.

 

11. Exhaust Fan / AC.

Ruang mesin lift temperaturnya naik setelah beberapa jam lift beroperasi, sehingga ruang mesin perlu sirkulasi udara pendingin dengan menggunakan fan atau airconditioning (AC). Peralatan ini dipasang oleh kontraktor listrik.

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kadang-kadang ter-jadi 'grey area' karena konsultan lupa mema-sukkan factor sepa-rator beam ini scope siapa?. Main kontraktor mengang-gap bagian dari pe-kerjaan lift. Sedang-kan kon-traktor lift menganggap separa-tor beam bagian dari pekerjaan struktur.

 

 

 

 

 

 

 

Konsultan kadang-kadang  lupa memi-kirkan concrete beam untuk penyanga me-sin, sehingga penyangga beban belum didisain dengan sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

Baru belakangan tahu bahwa perlu balok beton untuk penggantung pintu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada kontraktor yang terpaksa harus membongkar lagi plat lantai yang terlanjur di cor  guna memperoleh ketinggian overhead yang aman.

 

 

 

 

 

Scope of work per-baikan pit atau water-proofing biasanya jadi masalah. Scope siapa?